Posted by: Adi Wibowo | 12 September, 2008

Trip to Lawu 1999

Sekitar 9 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1999, saya bersama teman-teman kuliah, sepakat untuk camping ke gunung Lawu yang letaknya berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian puncak 3.265 M dpl. Sebelumnya kami berencana untuk ke gunung Slamet yang berada di Jawa Tengah tapi setelah mendapat informasi dari teman-teman MAPALA Gunadarma bahwa status gunung Slamet saat itu adalah siaga satu, kami batalkan tujuan ke gunung Slamet dan berganti ke gunung Lawu yang berada dekat dengan kota Solo. Dan yang kami ketahui adalah gunung ini adalah gunung yang sangat bersejarah dan banyak menyimpan legenda serta misteri didalamnya, dimana para brahmana menyarankan kepada Prabu Brawijaya V yang bernama Ki Ageng Panembahan Kaca Negara untuk menapak tilas jejak Prabu Airlangga ke Gunung Lawu dan dengan izin dari Eyang Lawu (penguasa Lawu), Ki Ageng Panembahan Kaca Negara membangun Keraton Majapahit di Lawu menjadi Keraton Lawu secara “imateriil”.

Kami tentukan saat yang tepat untuk berangkat adalah di bulan Agustus 1999 dengan rute perjalanan melalui kota Solo dan melewati Tawangmangu. Memang ada banyak rute pendakian untuk menuju puncak Lawu, dan dikarenakan kami melalui jalur Tawangmangu, jadi pilihan kami saat itu ada dua rute pendakian yaitu Cemoro Kandang (Jawa Tengah) atau Cemoro Sewu (Jawa Timur). Pertimbangan kami mengambil jalur Cemoro Kandang dikarenakan kami ingin santai dan tidak ingin terlalu terburu-buru untuk sampai diatas karena jalur di Cemoro Kandang memang landai dan jalurnya pun lebih memutar dibandingkan melalui jalur Cemoro Sewu yang lebih pendek tapi jalan yang dilalui sangatlah menanjak.

Kereta Ekonomi Solo Balapan

Kereta Ekonomi Solo Balapan

Setelah menyiapkan segala perlengkapan seadanya, kami berangkat naik KRL dari Stasiun Pondok Cina Depok ke Stasiun Manggarai, setelah itu kami sambung lagi dengan kereta ekonomi yang murah meriah “Solo Balapan” menuju kota Solo dalam waktu 16 jam. Sampai di stasiun Jebres yang waktu itu jam menunjukkan pukul 07.14, kami sarapan sebentar di pinggir jalan dekat stasiun. Seingat saya harganya lumayan murah juga pokoknya pas untuk kantong mahasiswa seperti kami, setelah kenyang dan tenaga mulai pulih lagi, kami berjalan kaki sekitar 1 Km menuju sebuah pertigaan dimana bis menuju arah Tawangmangu lewat, tidak lama berselang ada bis besar menuju arah Tawangmangu dan kami pun segera naik menuju tempat tujuan. Udara yang dingin mulai menggigit setelah bis menanjak dan berkelok-kelok karena memang jalan yang kami lalui adalah perbukitan dikaki gunung Lawu. Dari kejauhan sudah tampak puncak Lawu yang tinggi megah, berwibawa dan masih diselimuti kabut, cool banget deh pokoknya.

Gunung Lawu

Gunung Lawu

Pukul 08.49 akhirnya sampai juga di terminal Tawangmangu. Untuk urusan logistik, kami keliling cari bahan-bahan makanan yang diperlukan di seputar pasar tradisional Tawangmangu… jadi inget waktu cari-cari ayam setengah matang untuk pesta-pesta di puncak, waktu itu kami bersiasat menggunakan bahasa jawa untuk bernegosiasi dengan pedagang setempat biar dapat harga ayam yang lebih murah, tapi karena bahasa jawanya cuma pas-pasan, jadi ga ngaruh kalii.. hehehe

Rokok “bodo” (sebutan untuk rokok Djarum 76) kami beli satu slop temasuk indomie, beras, gula merah, kopi, gula pasir dan bahan-bahan lainnya (Kayak mau demo masak aja). Setelah siap, kami lanjutkan lagi perjalanan ke Cemoro Kandang dengan mobil angkutan pedesaan Mitsubishi Colt jurusan Tawangmangu – Cemoro Kandang/Sewu – Sarangan. Tempat duduk mobil yang kami tumpangi di selip sana selip sini bergabung dengan penumpang lainnya dan kami ga bisa bergerak kecuali untuk tengok kiri kanan saja, jika mobil sudah terisi penuh, baru bisa berangkat. Ternyata jalan yang dituju sangat menanjak dan sudah pasti berkelok-kelok karena jalan raya ini memang menyusuri punggung gunung Lawu, deskripsi saya mengenai kemiringan tanjakan ini adalah sekitar 45 derajat dan jarak tempuh untuk sampai Cemoro Kandang dari Tawangmangu adalah sekitar 9,5 Km. Tanaman-tanaman hijau yang segar, kebun-kebun kol di kiri kanan jalan, air yang memancur dari pipa-pipa yang dialirkan ke rumah-rumah penduduk dari mata air gunung dan hutan yang lebat menjadi pemandangan menarik dipagi itu.

Dengan kekuatan penuh, Mitsubishi Colt yang kami tumpangi menanjak perlahan-lahan di jalan raya yang memang adalah jalan tertinggi di pulau Jawa ini sekitar 1900 m di atas permukaan laut. Hebat juga nih mobil, walaupun penumpangnya penuh, barangnya banyak dan berat apalagi umur mobilnya pun udah cukup tua tapi tetap oke dan ulet untuk tanjakan sekelas ini.

Jalan menuju Sarangan

Jalan menuju Sarangan

Selama 40 menit diperjalanan dari Tawangmangu ke gerbang Cemoro Kandang yang sedikit melelahkan karena himpit-himpitan akhirnya kami sampai juga, begitu juga hari sudah hampir siang dan udara sekitar base camp ranger masih terasa sejuk, administrasi dan pendataan kami pun juga sudah selesai. Para ranger jaga siang itu memberitahukan bahwa sekitar ½ jam yang lalu, ada juga pendaki dari Jakarta yang sudah naik duluan. Setelah mandi-mandi dan makan camilan yang ada, (padahal mau nanjak gunung kok pake mandi-mandi dulu, kurang kerjaan ya) tepat pukul 11.00, kita mulai jalan, jerigen 2 ltr, botol aqua 1 ltr dan minuman lainnya digantung di tas-tas ransel kami membuat beban semakin terlihat berat.

Baru mulai udah ngos-ngosan

Memang kondisi cuaca saat itu adalah musim panas, kemungkinan mendapatkan air selama diperjalanan ke puncak sangatlah tipis, jadi harus bawa air banyak-banyak, tapi sayangnya persediaan air yang dibawa bukannya jerigen isi 2 ltr tapi malahan cuma botol – botol aqua 900 ml, apalagi perjalanan dilakukan siang hari, pasti cepat terasa haus, ya mudah-mudahan aja cukuplah.

Di awal pendakian melalui jalur lewat Cemoro Kandang antara pos 1 dan pos 2, kita masih bisa menikmati udara pegunungan yang segar, bunga-bunga edelweis yang ada di sepanjang kanan kiri jalur, suara angin, kicau burung dan gesekan dahan-dahan pohon yang karena tertiup angin dengan sambil bercanda, tapi setelah sampai antara pos 2 dan 3, jalur sudah sangat menanjak, sampai-sampai kita harus merangkak bahkan merayap..hehehe, kayak latihan militer aja.

Di beberapa tempat, tidak sedikit pesan-pesan yang di tulis diatas tonggak kayu oleh para teman-teman atau ranger-ranger, dimana para pendaki Lawu pernah meninggal ditempat itu, bisa jadi mungkin karena terkena hempasan badai, kehabisan bahan makanan atau kedinginan. Hampir di banyak tempat lainnya, terdapat saji-sajian yang diletakkan diatas batu-batu oleh para peziarah gunung Lawu yang memang bahwa gunung Lawu itu banyak dikenal sebagai tempat keramat karena sejarahnya adalah bahwa Prabu Brawijaya V moksa di puncak Lawu tepatnya di Hargo Dalem.

Pos 3

Pos 3

Setelah jauh melewati pos 3 atau yang biasa disebut Penggik, kami mendengar suara air yang sangat deras, awalnya kami kira adalah suara air terjun, tetapi setelah didengar baik-baik ternyata adalah suara angin yang berasal dari lembah (kencang juga ya, sampai-sampai dikira suara air terjun). Jam masih menunjukkan pukul 15.18, tetapi kabut sudah mulai turun dari puncak menuju lembah-lembah, turunnya kabut terlihat seperti berlomba-lomba turun menuju lembah, tidak ada suara yang lain kecuali suara-suara angin bertiup dan ranting pepohonan. Ada yang menarik, disaat kami melewati salah satu lembah, seekor burung kecil terlihat tidak takut dengan adanya rombongan kami, burung itu berjalan sambil melompat-lompat dan terkadang terbang berada di depan kami, yang kata orang-orang bilang burung itu adalah burung penunjuk jalan (ga tau nama kerennya burung ini apaan). Di kelompok ini, hanya saya dan Azis yang berjalan lebih cepat dari teman-teman lainnya, karena kami berdua berniat untuk mencari air dan mencari tempat untuk beristirahat secepatnya karena kami tidak merencanakan untuk mendaki dimalam hari.

Nice View

Nice View

Singkat cerita, kami sampai di pos 4 (Cokro Suryo), sebuah tempat berlindung yang atapnya ditutupi seng dan kala itu jam pun sudah menunjukkan pukul 16.00… tak disangka tiba-tiba udara dingin segera menyergap kami saat itu, dinginnya sampai terasa ke tulang dan kami segera mempersiapkan diri untuk memakai jas hujan, mantel, jaket kami untuk menahan rasa dingin yang amat sangat. Setelah diperhatikan, posisi pos 4 ini ternyata memang berada di bawah lembah, tidak heran jika angin berhembus sangat kencang di daerah itu, tapi karena persediaan air kami sudah tinggal sedikit ditambah rasa lelah sudah sampai ke seluruh badan, kami memutuskan untuk bermalam di pos 4 dan tidak meneruskan sampai ke puncak.

Modelnya adalah Andi, Ingo, Azis

Modelnya adalah Andi, Ingo, Azis

Karena saya dan Azis masih penasaran untuk bisa mendapatkan air, kami berdua mencoba untuk terus naik ke atas dengan harapan bisa menemukan mata air. Tapi karena sudah kelelahan seperti yang lainnya, dengan terpaksa kami berdua kembali lagi ke pos 4 dan bersiap-siap menyiapkan alas untuk istirahat seperti memotong dan mengumpulkan rumput-rumputan dan daun-daun kering.

Malam itu kami sepakat untuk bergantian jaga, dengan bermain kartu sambil ditemani rokok dan kopi hangat. Tapi kok semakin tambah malam, udara kian semakin dingin dan hembusan suara angin kencang menambah suasana semakin mencekam. Saat itu kekhawatiran kami adalah adanya badai gunung yang bisa datang secara tiba-tiba. Tidak ada satu penduduk atau pendaki pun yang melewati tempat kami untuk bisa kami ajak tukar informasi.

Dinginnya minta maaf eh minta ampun

Dinginnya minta maaf eh minta ampun

Yang keduluan dapet piket jaga duluan waktu itu adalah saya, Azis, Deden dan Dion tapi cuma sebentar karena tidak lama kami ikutan tertidur karena ngantuk dan kelelahan (ga konsekuen ya).

Di pagi harinya, kami dibangunkan oleh suara-suara langkah kaki orang yang ternyata adalah penduduk yang sedang mencari kayu bakar. Kalo tidak salah jam menunjukkan pukul 05.00, segera semua bangun dan tidak ingin melewatkan suasana pagi itu. Kabut, lembah, jurang dan perbukitan menghiasi suasana pagi itu, waduk Gajah Mungkur yang luas pun tampak jelas seperti lautan.

Bayang-bayang ilusi

Bayang-bayang ilusi

Setelah puas potret sana potret sini, kami bersiap lagi untuk turun gunung dan seperti yang sudah diutarakan diatas kami tidak melanjutkan perjalanan sampai ke puncak karena terbatasnya persediaan air dan karena hal tersebut, kami tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar lagi.

Di perjalanan turun, kami berpapasan dengan kelompok lain yang ternyata adalah orang-orang yang diberitahukan oleh para ranger sebelumnya.

Merapi dan Merbabu di kejauhan

Merapi dan Merbabu di kejauhan

Setelah bertegur sapa dan berbicang-bincang sebentar, kami lanjut perjalanan lagi dan ketemu dengan penanjak lainnya, kali ini orang bule, kayaknya sih suami istri dan anaknya yang masih kecil, mereka hanya mengenakan pakaian kaos oblong dan celana pendek, sang istri membawa ransel, suaminya menggendong anaknya dengan tas khusus (kita-kita pada kedinginan sampai jari-jari terasa kaku, tapi mereka cuma kaos oblongan ck ck ck).

Azis in position

Azis in position

Tidak berlama-lama di situ, karena kami juga berencana mendirikan tenda di bawah, maka kami segera turun dan meninggalkan mereka.

Ternyata turun gunung tidak semudah seperti yang dibayangkan, saya pikir naik lebih sulit daripada turun, tapi ternyata saat turun justru yang paling sulit buat saya dan sudah jelas berjalan paling belakangan dari yang lainnya, karena salah satu kelemahan saya adalah lutut bergetar saat kaki menginjakkan tanah apalagi sambil membawa tas ransel yang isinya masih penuh (jadi jengkel juga).

Sparkling Sunrise

Sparkling Sunrise

Dengan susah payah, sampai juga kami dibawah dan tidak lama tenda kami dirikan dan mulai menjalankan tugas masing-masing, ada yang membuat rak piring seperti Deden ini (aneh ya, kok sempet-sempetnya bikin rak piring), cari buah-buah pinus dan ranting-ranting kayu yang sudah kering untuk dijadikan kayu bakar, ada juga yang tidur-tiduran.

Udah capek semua adek-adek?

Istirahat dulu ahh

Ada pengalaman unik tersendiri buat saya saat berada di tenda, waktu itu saya berada di luar tenda dan bersiap-siap mau mandi, tiba-tiba ada seekor tawon yang besar terbang di sekitar saya, untuk beberapa saat masih saya acuhkan tawon itu dan kemudian saya masuk ke dalam tenda untuk mengambil pakaian ganti dan peralatan mandi. Tak disangka, tawon itu pun ikut masuk ke dalam tenda, karena kaget, saya segera keluar dan lari menuju mck untuk segera mandi yang letaknya berada di samping pos ranger, jarak dari tenda ke MCK itu sekitar 20-an meter. Saat asik mandi, kawan saya Ingo berteriak dari luar kalo tawon yang tadi masih mengikuti saya dan ada di luar pintu. Lalu saya tempelkan telinga saya ke daun pintu untuk mendengar apa benar seperti yang Ingo bilang, setelah saya dengarkan baik-baik, benar juga sih kalo suara tawon itu kedengaran. Heran juga sih, saya segera keluar dan benar, tawon itu ada di depan pintu dan tetap terbang kesana kemari mengelilingi saya, saya kembali lari ke arah tenda, tapi anehnya tawon itupun tetap mengikuti saya ke dalam tenda, akhirnya kesabaran saya sudah habis dan berteriak “Pergii looo…”, tidak berapa lama, tawon itu segera pergi dan tidak kembali lagi.

Tim pemburu nyamuk

Tim pemburu nyamuk

Sampai sekarang, saya masih teringat dengan kejadian itu dan masih bertanya-tanya kenapa bukan teman saya yang lain yang terus diikutinya tapi kok malah saya, kalo emang karena belum mandi, saya juga kan udah mandi. Wallahualam…

Seperti yang sudah saya ceritakan diatas, kalo di gunung Lawu ini banyak orang yang berziarah ataupun bertirakat, seperti pengalaman saya yang lain saat mencari kayu bakar, ada sebuah lubang yang bagian atasnya ditutupi oleh semak-semak dan ranting-ranting kering.

Warung Pos Cemoro Sewu Berkabut

Warung Pos Cemoro Sewu Berkabut

Tapi karena ditumpukan teratas adalah kain berwarna biru putih seperti bendera, saya berniat untuk mengambil kain tersebut, siapa tau kan bisa buat selimut. Tapi saat saya sodok-sodokan tongkat saya ke dalam tumpukan semak-semak itu, ada suara orang menggumam “HHMMMMMMM”, saya kaget sekali, ga disangka ternyata ada orang di dalamnya, cepat-cepat saya minta maaf dan pergi meninggalkan tempat itu. Mau tapa kayaknya, kira-kira lagi cari ilmu apa tuh ya?

Serasa pendekar aje gayanye ye

Pendekar-pendekar kedinginan

Sehari semalam kami menginap di tempat itu, tapi malam berikutnya kami sempat terheran-heran, kok banyak sekali orang yang mendaki, gak cuma kelompok-kelompok pendaki ada juga pedagang yang naik gunung juga, karena penasaran, kami tanya ternyata malam itu adalah malam satu suro yang sudah jadi kebiasaan penduduk setempat, untuk mendaki gunung Lawu untuk sekedar jalan-jalan atau menjalankan ritual sesuai keyakinan mereka.

Bareng ranger dan supir angkot

Bareng ranger dan supir angkot

Waahh, kalo ga capek sih, maunya ikutan naik ke atas juga, tapi berhubung waktu itu saya berencana ke Magelang juga, esok paginya saya dan Ingo mampir dulu ke Magelang dan yang lain kembali pulang ke Jakarta. Sebagai tanda terima kasih kami kepada para ranger jaga di Cemoro Kandang yang sudah berbagi cerita, info dan pengalaman, kami berikan perbekalan kami yang masih ada kepada mereka seperti beras, indomie, dan lain-lain.. lumayan kan beban kami pun juga berkurang. Suatu saat kami akan kembali lagi ke gunung Lawu, mudah2an bisa menginjakkan kaki di sana lagi dan bertemu dengan kalian lagi, peace man…

Gunung Lawu memang menyimpan banyak misteri dan sejarah yang mengandung makna yang dalam, untuk hal yang satu ini, saya mengutip dari beberapa referensi yang lain, silahkan mengikuti artikel berikut dibawah ini.

Thats all and see ya..🙂

Misteri Gunung Lawu

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Gunung Lawu

Gunung Lawu


Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang umbul itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi itupun sampailan di puncak Harga Dalem.
Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening dan melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bagaimana mungkin ini terjadi Sang Prabu? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.


Responses

  1. wahahhah seru bow jadi inget masa lalu, gw jadi inget obrolan2 seru n lucu sama temen2

  2. eh udh ada si om ingo yg komentarin … gw ikutan juga ah .. biar serrrrrrrruuuu … n jadi nostalgilaaaaaaaa …gilaan ya .. waktu masih muda dulu n masih pejaka tong-tong eh ting-ting …

    wah ada moment yg kelewat tuh .. kan waktu itu kita sempet ada distasiun manggarai blm diceritain .. n selama perjalanan dikereta yg tempat du2knya L n gada busanya yg bikin badan pada linu semua berentek ga karuan .. blm lagi tempat du2k yg ada bangsalnya whuaahhaaa…hahhaaaa … pasti seru abis tuh ..

    blm makanan dipinggir kota solo yg pake nasi sama sayur kebanjiran yg cuma berapa harnganya sori gw lupa .. yg pake piring kaleng klo ga salah tatakannya .. weideh seru abis tuh pak ….

    blm lagi perjalanan pulang yg kita tunggu kereta yg mo kejakarta sambil maen gaple … n maen gaple di gunung sampe ada yg ningkring karena kalah terus .. hayooooooo ngakuuuu sape tuh wujud orangnyeee nacung dah ntr dibedong neh …

    ada lagi yg terlewatkan bow lo blm tulis kan ada ibu2 pkk yg rajin buat rak piring .. huahhaaaaaaaa… ancur abis tuh orang .. masih idup lagi sampe skr ….
    ada lagi yg cari ranting ehhhh … goloknya ketinggalan tinggal batangnya doank …nyangkut di batang kayu sebelah ..
    blm lagi yg ditenda tdr tumpuk2an yg bukan wcw ya .. tapii pada kedinginan ..dasar ga tau klo gw nyalain ac nya kegedean apa huahhaaaaa ….

    ada yg buat jahe yg bukan wedang jahe …ada yg melarikan diri ke warrung .. katanya camping tapi jajan ttp jln huhahhaa .. anak kost gitu loch …nongkrong di warung sebelah ..

    blm bi2 yg pada merekah semua karena kedinginan .. di jkt odol buat gigi tapi disana odol buat bi2r .. merekah dah tuh bibir …
    gw aja sampe ga mandi gara2 dinginnya minta ampyuuuuuuuun pisan … sampe ketulang sumsum …yg bukan wisata kuliner ya sumsumnya … hahahaaaaaaaaa …

    masih bnyak si cuma kasian ah ntr cape lagi bacanya … hehe …

    sukses terus ya bow .. kapan neh kita kongkow lagi di tunggu update infonya …

    slm 2 jari pisssssss … ah ..

  3. Kapan2 SPIL boleh tuh ikut Gathering ke LAWU, melatih kaki dan perut agar tidak BUNCIT…..hehehehe…..
    Perjalanan yang menyenangkan Mas Adi,leh juga…
    Regards,

  4. Kayaknya kalo SPIL bikin acara gathering ke Lawu, imposible deh War…😉

  5. bos tlng di ksh liat gambar kawah condo dimuko

  6. aku jga puny pengalaman mistis di lawu tepatnya 1 suro 2007 ketika itu q ma tmn2 giri sutha mengadakan pendakian rutin tiap 1suro di lawu ketika kami sampai di pos 2 atau watu gedek kami berpapasan dngan seorang tua dengan jenggot menjuntai hampir menyentuh tanah tanpa sungkan2 sikakek berkata kepada kami ati-ati ngger tahun iki ora koyo tahun wingi yen pingin ngerti sejatine lawu ayo melu aku( hati2 nak tahun skrang tdk sprti tahun kmrin klu mau tau sejatinya gnung lawu ayo ikut kakek ) seketika itu jga kami berenam serasa tyerhipnotis oleh suara sang kakek dan kami mengikuti semua yang di katakan kakek yang pling aneh hanya dengan waktu yang singkat kami tlh smpai di punck lawu dan dlm waktu yng singkat pla kami tlh sampai di kawah cndro dimuko padahal kami berangkat dri basecamp cemoro sewu jam 7 pagi dan jam 10 kmi tlh berada di kawah cndro dimuko padahal jarak antara pos 2 watu gedek smpai pncak lawu cukup jauh paling cpt kami biasanya hanya 3 jam paDAHAL KALI INI DRI WATU GEDEK KEPUNCAK LAWU TRS KE KAWAH hny ditempuh dlm beberapa jam sungguh pengalaman paling mistis yg pernah aku alami dan yang pling aku heran ketika brjln sikakek serasa tidak menyentuh tanah danb kami tidak merasakan lelah sedikitpun sesampainya di kawah kami terpisah menjadi 3 grup aku bersama nomo rekan aku aku bnr2 bingung ketika di kawah nomo lebih bingung lagi karna jarum kompas miliknya berputar dan tak mau berhenti seakan tak mau menunjukan arah kemana kami hrs brjln hal serupa terjadi juga pada 4 rekan kami kemudian kami berkumpul laGI DAn berusaha mencari jalan kelur dri kawah akhir na kami menemukan sebuah bongkahan batu dan kami melewatinya betapa terkejutnya kami benar2 hal yang aneh setiap tahun kami ke sini bru kali ini kami merasa bingung untuk keluar dri kawah setelah berhasil melewati batu percaya ga percaya kami telah berada di pelaosan magetan kami satu tim benar2 tidak percaya setelah kamimenoleh kebelakang batu yg kami lewati hilamg tanpa bekas berganti dengan hamparan kebun wortel pengalaman ini sampai skrng tak dapat kami lupakan dan anehnya ternyata kami berada di kawah selama hampir 15 hari itu kami ketahui setelah kami pulang kerumah masing2 dan semua gambar yng kami ambil selama di kawah semuanya hangus tak ada satupun yang berhasil kami rekam itu sebabnya aku minta tlng dikasih liat gambar secara detail kawah condro dimuko terima kasih wasalam KENCHEK team GURI SUTHA wong medione bos

  7. Wah… itu dia mas Kenchek, sebenarnya ada rasa kecewa, kita tu ga berhasil sampe di puncak karena kehabisan persediaan air, makanya ga dapet gambar kawah candradimuka.
    Ngomong2, menarik juga lho pengalaman gaib dari anda, Tuhan Maha Besar ya, semoga dengan pengalaman gaib tersebut, ketakwaan dan keimanan kita terhadap-Nya semakin bertambah.
    Semoga lain waktu kalau ke Gunung Lawu lagi, ga ada foto yang hangus ya…🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: